Timur Tengah Kembali Memanas, Mengapa Ekonomi Indonesia Ikut Terkena Dampaknya?

Angel

Angel

Contributor

22 September 2026
5 min baca
3 dilihat
Manajemen-strategi-keuangan

Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat. Serangan rudal Iran ke pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania dan meningkatnya serangan kelompok Houthi di kawasan Arab Saudi menambah panjang daftar risiko keamanan di kawasan tersebut.

Sekilas, konflik yang terjadi ribuan kilometer dari Indonesia mungkin terasa jauh. Namun, dampaknya dapat bergerak melalui jalur yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: minyak, transportasi, nilai tukar, hingga harga barang.

Ketika kawasan yang menjadi jalur penting perdagangan dan energi dunia terganggu, pasar global pun ikut bereaksi.

Dari Serangan Militer ke Gejolak Harga Minyak

Pada awal September, Iran melancarkan serangan rudal ke pangkalan Amerika Serikat di Yordania. Reuters melaporkan serangan tersebut menyebabkan kerusakan pada sejumlah pesawat militer AS di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti.

Di sisi lain, ketegangan juga meningkat di sekitar Arab Saudi.

Pada 16 September, Arab Saudi menyatakan telah mencegat dan menghancurkan drone Houthi di selatan Makkah sebelum memasuki wilayah udara terlarang. Kelompok Houthi membantah menargetkan Makkah atau situs keagamaan.

Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) kemudian mengecam serangan Houthi yang disebut menyasar Makkah dan wilayah Madinah serta menyatakan dukungan terhadap Arab Saudi.

Rangkaian peristiwa tersebut berlangsung ketika jalur perdagangan dan energi di kawasan sudah menghadapi tekanan.

Akibatnya, pasar minyak kembali sensitif terhadap setiap perkembangan keamanan.

Mengapa Indonesia Perlu Memperhatikan?

Indonesia memang bukan negara yang berada di pusat konflik tersebut. Namun, Indonesia tetap terhubung dengan ekonomi global.

Ketika harga minyak dunia meningkat, biaya yang berkaitan dengan energi dan transportasi dapat ikut terdorong. Bagi perusahaan, kenaikan biaya bahan bakar dapat memengaruhi biaya distribusi dan produksi.

Dampaknya kemudian bisa merambat ke harga barang.

Bank Indonesia sendiri telah menyatakan bahwa intensitas konflik di Timur Tengah meningkatkan ketidakpastian global dan memberikan tekanan terhadap harga minyak serta komoditas internasional. Kondisi tersebut juga menjadi salah satu pertimbangan dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan inflasi.

Jadi, jalur pengaruhnya kurang lebih seperti ini:

Konflik meningkat → risiko pasokan energi naik → harga minyak bergejolak → biaya produksi dan transportasi tertekan → harga barang berpotensi ikut meningkat.

Bukan Cuma Minyak, Logistik Juga Bisa Terganggu

Timur Tengah memiliki sejumlah jalur pelayaran strategis, termasuk Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb.

Ketika keamanan jalur tersebut terganggu, perusahaan pelayaran dapat menghadapi risiko lebih besar. Kapal bisa mengubah rute, membutuhkan waktu lebih lama, atau menghadapi biaya asuransi dan operasional yang lebih tinggi.

Situasi tersebut menjadi perhatian karena serangan dan gangguan di kawasan telah berpengaruh terhadap aktivitas pelayaran dan pasar energi. Reuters melaporkan harga minyak Brent sempat naik lebih dari 2 persen pada 14 September hingga sekitar US$107,51 per barel setelah serangkaian serangan dan gangguan pasokan.

Bagi dunia usaha Indonesia, gangguan semacam ini dapat meningkatkan biaya logistik untuk perdagangan internasional.

Terutama bagi perusahaan yang menggunakan bahan baku impor atau bergantung pada transportasi laut, perubahan biaya pengiriman dapat ikut memengaruhi perhitungan harga jual.

Rupiah Juga Berada dalam Perhatian

Gejolak geopolitik biasanya tidak hanya bergerak di pasar komoditas.

Ketidakpastian global juga dapat memengaruhi keputusan investor. Ketika risiko meningkat, pasar keuangan negara berkembang dapat menghadapi tekanan karena investor cenderung lebih memperhatikan keamanan aset dan likuiditas.

Bank Indonesia mencatat bahwa konflik Timur Tengah dan ketidakpastian global turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar dan preferensi investor terhadap aset negara berkembang.

Bagi Indonesia, stabilitas Rupiah penting karena pelemahan nilai tukar dapat meningkatkan biaya barang dan bahan baku yang berasal dari luar negeri.

Dengan demikian, konflik di Timur Tengah dapat masuk ke perekonomian Indonesia melalui dua jalur sekaligus: harga komoditas dan pasar keuangan.

Pelaku Usaha Perlu Menghitung Risiko, Bukan Hanya Harga

Bagi perusahaan, kondisi seperti ini menunjukkan pentingnya memperhitungkan risiko geopolitik dalam perencanaan keuangan.

Perusahaan yang bergantung pada bahan bakar, bahan baku impor, atau jasa pengiriman internasional perlu memperhatikan kemungkinan perubahan biaya.

Misalnya, ketika harga minyak meningkat, perusahaan transportasi dapat menghadapi biaya operasional yang lebih tinggi. Jika perusahaan tidak memiliki ruang yang cukup dalam margin keuntungan, kenaikan biaya tersebut dapat menekan laba.

Begitu pula dengan perusahaan yang menggunakan bahan baku impor. Pelemahan Rupiah dapat membuat biaya pembelian dalam rupiah menjadi lebih mahal.

Karena itu, ketidakpastian geopolitik bukan hanya persoalan pemerintah dan investor. Pelaku bisnis juga perlu memasukkannya dalam pengelolaan risiko keuangan.

Indonesia Punya Bantalan, tetapi Tetap Perlu Waspada

Di tengah gejolak global, kondisi domestik Indonesia masih menjadi salah satu penyangga.

Bank Indonesia mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada kuartal II 2026. BI juga mempertahankan BI-Rate pada 5,75 persen dalam RDG Agustus 2026 sambil terus memperkuat stabilitas Rupiah dan menjaga inflasi dalam sasaran 2,5±1 persen.

Namun, adanya bantalan domestik tidak berarti Indonesia sepenuhnya terisolasi dari perkembangan global.

Jika harga energi dan biaya logistik tinggi bertahan dalam waktu lama, tekanan terhadap dunia usaha dan konsumen dapat semakin terasa.

Artinya, durasi konflik menjadi faktor penting. Gejolak harga selama beberapa hari tentu berbeda dampaknya dengan gangguan pasokan yang berlangsung berbulan-bulan.

Konflik di Jauh Sana, Dampaknya Bisa Sampai ke Dompet

Ketegangan di Timur Tengah menunjukkan betapa terhubungnya perekonomian dunia.

Sebuah serangan di kawasan konflik dapat memengaruhi persepsi risiko. Risiko tersebut kemudian bergerak ke pasar minyak, perdagangan, pelayaran, dan pasar keuangan.

Pada akhirnya, efeknya dapat sampai ke perusahaan dan rumah tangga melalui biaya energi, transportasi, serta harga barang.

Karena itu, perkembangan Timur Tengah bukan hanya isu geopolitik.

Bagi Indonesia, persoalannya juga menyangkut seberapa kuat ekonomi domestik menghadapi gejolak harga energi, gangguan rantai pasok, dan perubahan kondisi pasar global.

Ketegangan Timur Tengah mungkin terjadi jauh dari Indonesia, tetapi jalur energi dan perdagangan membuat dampaknya tidak mengenal batas negara. Bagi pemerintah maupun pelaku usaha, menjaga ketahanan ekonomi berarti tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga menyiapkan strategi menghadapi gejolak global yang sulit diprediksi.

Tags
konflik Timur Tengah 2026 ekonomi Indonesia harga minyak dunia Iran Yordania Houthi Arab Saudi Makkah geopolitik Rupiah inflasi Indonesia biaya logistik ekonomi global
Link berhasil disalin ke clipboard!
👋 Tanya AI Kami!
Kembali ke Atas
Chat WhatsApp
Chat Bot

Asisten GL++

Online 24/7
GL-Bot

Halo! 👋 Saya asisten virtual GL++. Ada yang bisa saya bantu tentang software akuntansi dan layanan kami?

11:28